Wednesday, 26 September 2012

MEIJI RESTORASI




BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Pada waktu Jepang dipaksa membuka diri oleh dunia Barat, kekuasaan Shogunat Tokugawa sedang berada dalam keadaan lemah. Kesempatan ini dipergunakan oleh Clan Satsuma dari Kagoshima (Kyushu) dan Slan Chosu dari Yamaguchi untuk meruntuhkan kekuasaan Tokugawa atas Jepang. Kedua clan ini berhasil meyakinkan Tenno Heika waktu itu untuk mengambil kembali kekuasaan politik dan meniadakan shogun.
Tenno Heika Mutsuhito dan kemudian dinamakan Meiji Tenno (1852-1912), ketika masih muda pada umur 14 tahun telah menggantikan ayahnya, Komei Tenno yang meninggal. Meiji Tenno setuju dengan pikiran pemimpin-pemimpin Satsuma dan Chosu. Dengan kemampuan militer mereka, Tokugawa dapat dikalahkan dan Meiji Tenno pindah dari Kyoto ke Edo, yang kemudian dinamakan Tokyo (ibu kota di Timur). Sejak 1868 dimulailah pembangunan Jepang yang dikenal dengan Restorasi Meiji.
Restorasi Meiji merupakan suatu dambaan bagi bangsa Jepang untuk mengangkut bangsanya agar sejajar dengan bangsa barat. Sejak restorasi, Jepang berusaha memperoleh ilmu pengetahuan Eropa untuk mencegah penjajahan atau dominasi Eropa atas Jepang. Dalam usaha itu, Jepang meniru banyak hal yang ditemukan dalam kehidupan negara-negara Eropa.
Pelaku-pelaku utama dalam Restorasi Meiji adalah kaum samurai rendahan dari Chosu, Satsuma serta beberapa propinsi Barat lainnya dan berbagai reformasi kelembagaan pada permulaan jaman Meiji diprakarsai oleh anggota-anggota samurai rendahan yang berpikir progresif.

B.     Perumusan Masalah
Dalam paper ini penulis merumuskan masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana pemerintahan sementara pada awal Meiji ?
2.      Apa isi dari Sumpah Charter Kaisar Meiji ?
3.      Bagaimana reformasi kelembagaan yang dilakukan pada masa Meiji?
4.      Bagaimana gerakan pengadaan pemerintah konstitusionil yang dilakukan Jepang?
5.      Bagaimana imperialisme yang dilakukan Jepang?
6.      Apa saja akibat restorasi Meiji?

C.     Tujuan
Penulisan paper ini bertujuan untuk :
1.      Mengetahui keadaan pemerintahan sementara pada awal Meiji.
2.      Mengetahui isi Sumpah Charter Kaisar Meiji.
3.      Mengetahui reformasi kelembagaan yang dilakukan pada masa Meiji.
4.      Mengetahui gerakan pengadaan pemerintah konstitusionil Jepang.
5.      Mengetahui imperialisme yang dilakukan Jepang.
6.      Mengetahui akibat dari Restorasi Meiji.



BAB II
PEMBAHASAN

A.     Pemerintahan Sementara Awal Meiji
Kaisar Matsuhito mulai memerintah pada tanggal 25 Januari 1868. Zaman pemerintahan Meiji yaitu 25 Januari 1868 sampai 30 Juli 1912 (hari wafatnya), dinamakan Zaman Meiji. Meiji adalah nama pemerintahan Kaisar Meiji. Pemulihan kekuasaan pemerintah ke dalam Kaisar ini dinamakan Restorasi Meiji. Setelah mEiji naik tahta, ibu kota negara yang semula di Kyoto dipindahkan ke Edo. Pada saat kota Edo menjadi Ibu kota, tanggal 26 Nopember 1868 kota itu kemudian diubah namanya menjadi Tokyo.
Pada waktu pemulihan kekuasaan terjadi, Kaisar Matsuhito baru berumur 14 tahun. Dalam umur yang masih muda itu, dia banyak mendapat pengaruh dari penasehat-penasehatnya. Penasehatnya terdiri anggota keluarga di Jepang Barat. Pemimpin penasehat yang lain adalah Saigo, Okubo (samurai dari Satsuma), Itagaki (tosa), Ito (Chosu) dan Okuma (Hizen).
Pimpinan-pimpinan Jepang yang baru, melakukan tugas pertamanya yaitu pembentukan suatu pemerintahan. Pemerintahan pertama yang didirikan bersifat sementara dan terdiri atas 3 badan. Badan pertama, Sosai (Kepala Tertinggi) dikepalai oleh seorang Pangeran. Yang kedua adalah Gijo yang terdiri atas anggota-anggota yang diambil dari orang golongan ningrat. Dan badan ketiga, Sanyo dibentuk dengan 5 orang golongan ningrat dan 15 orang samurai sebagai anggotanya.
Pada tahun itu juga (1868), corak pemerintahan diubah. Yang semula terdiri dari 3 badan, diubah hanya diadakan sebuah badan saja, Dai jokwa, Majelis Musyawarah yang terdiri atas dua dewan : dewan atas, yang mencakup Gijo dan Sanyo yang dahulu dan dewan bawah beranggotakan wakil-wakil golongan feodal.



B.     Sumpah Charter Kaisar Meiji
Tahun 1868, pertama kalinya dalam sejarah Jepang tepatnya tanggal 6 April, Meiji Tenno mengangkat Sumpah Setia (Charter Outh) di hadapan para Daimyo dan Aristokrat. Pada ketiga bab pertama Sumpah Charter ini dipandang sebagai pernyataan keinginan membentuk parlemen nasional dan dewan, mengadakan asa-asas pemerintahan demokratis dan menjadikan kemerdekaan, persamaan dan kebahagiaan dasar kehidupan nasional. Pasal keempat dipandang sebagai janji untuk menghapus segala pendirian yang tidak sesuai dengan doktrin yang wajar. Bab kelima, berisikan keputusan untuk memakai kepercayaan filsafat dan pekerjaan sosial barat. Tetapi penafsiran kelima pasal Sumpah Charter itu berbeda-berbeda. Pada intinya di bab 4 dijelaskan bahwa segala kebiasaan yang tidak berdasarkan peradaban akan dibuang. Inti pasal ke 5 yaitu, pengetahuan akan dicari di seluruh dunia, yang berarti Jepang akan meminjam dari seantero dunia secara besar-besaran sebagaimana dahulu telah banyak dipinjam dari Tiongkok.
Sumpah Charter Kaisar Meiji dimuat lengkap dalam Proklamasi Kaisar bulan Juni 1868, yang mengubah seluruh bentuk dari pemerintahan pertama dengan pengadaan Dijokwan. Proklamasi Kaisar ini hakekatnya adalah konstitusi pertama dari Jepang modern.
Bentuk pertama pemerintahan jepang yang berdasarkan Sumpah Charter adalah mencontoh corak pemerintahan yang mencontoh sistem Tiongkok. Sifat kepurbakalaan yang diperlihatkan adalah Departemen Agama ditaruh di atas departemen-departemen lain.

C.     Reformasi Kelembagaan
Runtuhnya sistem feodal didahului oleh perubahan-perubahan sosial-ekonomi yang mempengaruhi dasar lembaga-lembaganya. Peraturan yang ada bertujuan dalam pembekuan struktur feodal masyarakat, suatu ekonomi keuangan yang menyebar selama masa terakhir Tokugawa dengan menggoncangkan fondasi-fondasi sisten feodal. Dengan perubahan para samurai menjadi penduduk kota serta melepaskan kebiasaan-kebiasaan tradisional mereka berupa penghematan, biaya-biaya pengeluaran pemerintah terus menerus mengalami defisit. Fondasi-fondasi feodal di pedesaan punjadi goncang. Usaha-usaha pemerintah secara berkesinambungan guna meningkatkan pajak beras untuk mengurangi defisit, semakin mempersulit kehidupan para petani, beberapa diantara mereka memberontak atau pindah dari desa ke kota (untuk menantang peraturan menahan mereka di wilayah pedesaan).
Penyebaran ekonomi uang dan pelembagaannya adalah asing bagi sistem feodal dan telah menciptakan jurang pemisah di antara ideal feodalisme dan kenyataan yang nyata. Peranan utama dalam reformasi kelembagaan dipegang oleh kelas saudagar. Reformasi kelembagaan yang dilaksanakan selama lima tahun permulaan masa Meiji terdiri dari reformasi politik dan reformasi sosio-ekonomi.
C.1.     Reformasi Politik
Reformasi politik dilakukan untuk menjauhkan daimyo dari kekuasaan dan mendirikan negara kesatuan. Tindakan yang dilakukan pada tahun pertama, mengangkat seorang pembesar pemerintah pusat di tiap wilayah daimyo. Pada tahun kedua, samurai-samurai muda yang diantaranya berasal dari Kido dan Saigo membujuk daimyo Satsuma, Chosu, Hizen dan Tosa untuk menyerahkan daftar-daftar registrasi tanah (hansekihokan) kepada pemerintah sebagai pelambang penyerahan wilayah mereka. Lalu pemerintahlah yang berkuasa di wilayah daimyo-daimyo itu.
Keempat daimyo yang berpengaruh menunjukkan bahw mereka berdiri di belakang pemerintah atau men politik persatuan. Daimyo-daimyo itu sementara waktu menjadi Gubernur di wilayah masing-masing. Mereka diberi 1/10 dari penghasilan mereka yang dahulu. Tanah-tanah dibago-bagi dalam kesatuan-kesatuan politik baru yang dinamakan ”ken” atau ”prefektur”. Pemerintah pusat dan pemerintah propinsi adalah samurai-samurai.
Peraturan keuangan yang berupa pensiun diadakan untuk samurai-samurai daimyo-daimyo. Para samurai diberi separuh dari pendapatan nominal mereka. Pembayaran pensiun kepada bekas daimyo dan golongan samurai itu akhirnya menjadi beban berat bagi kas negara. Pembayaran itu pun bersifat turun temurun dan ada juga yang seumur hidup. Setelah diadakan percobaan dalam tahun 1871 untuk mengubah persetujuan-persetujuan dengan negara-negara asing dengan maksud agar pemerintah dapat memperoleh lebih banyak dengan penaikan bea-masuk dan bea-keluar. Untuk itu dikirimlah misi keluar negeri pada tahun 1871 yang dipimpin Iwakura. Tetapi negara-negara asing tidak suka mengubah persetujuan-persetujuan yang menguntungkan mereka.
Akhirnya, pada tahun 1873 atas usulnya Caunt Okuma (menteri keuangan), diambillah keputusan yaitu mengubah peraturan pensiun ini. Yang pertama yaitu golongan samurai dapat diterima atau ditolak menurut suka mereka dan hanya berlaku untuk samurai yang diberi 100 koku beras atau kurang dari bayaran sekaligus. Pemerintah bersedia menukar pensiun itu atas dasar harga beras sesudah panen berikutnya dengan suatu pembayaran sekaligus, separuh dengan uang kontan dan separuh dengan surat hutang negeri yang berbunga 8 pct. Dasar penukaran itu adalah untuk pensiun turun-temurun diberi pambelian bunga 6 tahun dan untuk pensiun seumur hidup diberi bunga pembelian 4 tahun. Di tahun 1976 peraturan penurunan ini diubah dan tidak bersifat sukarela pula tetapi diwajibkan.
C.2.     Reformasi Sosial-Ekonomi
Reformasi ini tercakup dalam bagian kedua dari reformasi-reformasi kelembagaan yang dilaksanakan pada permulaan jaman Meiji. Masyarakat feodal Tokugawa merupakan masyarakat kelas, baik sebagai penyebab maupun dalam hal jenjang tingkatan. Bentuk reformasi sosial pada permulaan jaman Meiji adalah penghapusan sistem kelas dan menyusun suatu masyarakat yang berorientasi hasil prestasi karya. Reformasi ini paling tidak memberi kesempatan orang-orang berbakat serta kebolehan untuk maju dalam masyarakat, tanpa memandang latar belakang kelas sosial.
Seiring dengan penghapusan sistem kelas, peraturan-peraturan serta patokan-patokan feodal yang menghambat kemerdekaan ekonomi juga dihapus. Kelas kaum samurai tidak saja bebas untuk memilih kedudukan-kedudukan produktif, melainkan sangat dianjurkan untuk berbuat yang demikian. Ditiadakan peraturan-peraturan yang melarang kaum petani untuk meninggalkan wilayah pedesaan serta menjual tanah mereka atau menentukan sendiri akan bertanam apa. Petani-petani jadi bebas untuk melakukan kegiatan yang akan meningkatkan pendapatan mereka. Bagi para saudagar, peraturan-peraturan feodal yang mewajibkan mereka untuk ikut dalam perhimpunan-perhimpunan profesi dan yang membatasi persaingan dihapus. Bagi setiap orang mungkin untuk memulai usaha apapun di bidang manapun. Karena modal saudagar biasanya terlalu terbatas untuk mencapai hal-hal besar dalam masa baru itu, pemerintah mendukung pembentukan perusahaan saham patungan.

D.    Gerakan Mengadakan Pemerintah Konstitusionil
Pada tahun 1879 Pemerintah membentuk Dewan Prefektur yang anggota-anggotanya dipilih oleh pembayar-pembayar pajak lebih tinggi dalam tiap prefektur. Dua tahun kemudian dijanjikan akan diadakan sebuah Dewan Nasional (1890). Di tahun 1880 telah diadakan perubahan pada undang-undang hukum.
Ito Hirobumi, seorang samurai Chosu yang telah diangkat menjadi pangeran dalam rangka keningratan baru. Tahun 1882, ia dikirim ke Eropa dengan tugas mempelajari konstitusi berbagai negeri di Barat dan menyusun sebuah konstitusi untuk Jepang. Dalam perjalanannya, Ito merasa tertarik oleh konstitusi Jerman. Pada hematnya itulah yang terbaik bagi negerinya. Setelah kembali ke Jepang, Kabinet Jepang yang telah diadakan dalam tahun 1871 ditetapkan bertanggung jawab kepada Kaisar bukan kepada wakil rakyat. Akhirnya tanggal 11 Februari 1880 dimaklumkan sebuah konstitusi sebagai hadiah dari kaisar kepada rakyat. Kemudian atas jasanya Ito dipandang sebagai bapak konstitusi.
D.1.     Pertanian
Pada tahun 1873 dimaklumkan sistem pajak tanah baru. Petani-petani dijadikan pemilik-pemilik tanah yang dahulu dikerjakan mereka untuk daimyo-daimyo. Kerja paksa dan pembayaran dengan hasil bumi diganti dengan sistim pajak. Untuk memperbaiki keadaan pertanian diundang ahli-ahli pertanian Barat. Guna perbaikan pertanian juga, dimasukkan jenis baru hewan dan kuda.


D.2.     Perdagangan
Pembukaan negeri Jepang melalui persetujuan-persetujuan Internasional, menjadikan zaman baru bagi perdagangan. Sesudah kunjungannya Perry, perdagangan luar negeri Jepang sebagian besar diurus oleh orang-orang kulit putih, yang berlaku sebagai perantara. Perkembangan perniagaan diikuti pendirian bank-bank. Di tahun 1873 pemerintah membangun bank nasional yang mencontoh sistem Amerika Serikat.
Perdagangan membutuhkan alat-alat lalu lintas. Maka pada waktu itu pula tampak kapal-kapal uap memelihara perhubungan antar pulau. Kapal-kapal semula dibuat di luar negeri dan dimiliki orang asing. Tetapi dengan segera Jepang dapat membuat kapal-kapal uap sendiri. Sejak jalan kereta api pertama, yakni antara Tokyo dan Yokohama, dibuka dengan resmi oleh Kaisar Meiji dalam tahun 1872. pemerintah segera membuat jalan-jalan kereta api. Pemerintah juga telah membangun banyak pabrik-pabrik.
D.3.     Persuratkabaran
Beberapa waktu setelah kota-kota pelabuhan persetujuan dibuka, orang Barat di Jepang lantas menerbitkan majalah-majalah. Yang pertama adalah ”Nagasaki Shi Pping List and Advertiser” yang mulai terbit di tahun 1861 dan kemudian berganti nama menjadi ”Japan Herald”.
Harian Jepang pertama adalah Moinichi, yang didirikan tahun 1872 di Yokohama. Sejak itu diterbitkan banyak harian lain. Menurut Sansom hingga kira-kira sampai tahun 1887, surat kabar yang terbit bukan menjadi alat-alat penyenang hati rakyat yang bertujuan memberi warta berita dan mencari untukng. Harian-harian itu umumnya miliknya perseorangan atau golongan dengan tujuan politik dan pendidikan umum. Pengasuh-pengasuhnya bukan wartawan-wartawan profesional melainkan tokoh-tokoh politik atau kesusastraan. Beberapa diantaranya, harian-harian pada masa itu mengambil pihak kaum oposisi terhadap pemerintah. Hal ini menyebabkan pemerintah sampai terpaksa menguasai sebuah harian, Nichi-Nichi untuk pengutaraan pandangan resmi.
Pada tahun 1875 diadakan Undang-undang pers. Undang-undang ini dijalankan dengan keras. Misalnya, ketika timbul pertentang hebat mengenai ”minken atau hak rakyat dalam tahun-tahun progresif menginginkan kemerdekaan dan hak rakyat. Partai konservatif berpendapat masih belum tiba saatnya untuk mengadakan badan-badan demikratis. Dalam sengketa ini pers telah memilih pihak progresif dengan menentang pemerintah. Maka undang-undang persuratkabaran tahun 1875 dijalankan dengan keras, yang berkesudahan banyak wartawan dilempar ke dalam penjara.
Setelah di tahun 1873 apa yang dinamakan partai pemerintah atau partai konstitusional imperial dibubarkan dan pemerintah tidak membutuhkan pula harian pemerintah. Harian-harian oposisi itu mengubah sikap. Selanjutnya mereka hanya menjadi pembawa berita, tidak pula pemimpin pendapat umum. Dunia barat kini menggantikan Tiongkok, yang telah menjadi contoh bagi Jepang selama abad ke-7 sampai abad ke-10. Jepang telah mempersiapkan diri untuk melompati jaman perlintasan ke jaman modern Barat.

E.     Imperialisme Jepang
Jepang pada waktu itu ingin sekali menjauhkan diri dari Imperialisme Barat. Jepang takut kalau pulau-pulau yang dimilikinya akan dikuasai oleh bangsa Barat. Tetapi kini Jepang dipaksa membuka diri dengan banga asing. Para pemimpin-pemimpin Jepang sebenarnya ingin mengubah negerinya yang miskin dan kecik menjadi sebuag negara yang besar. Mereka percaya behwa semua itu dapat dicapai dengan menguasai daerah-daerah yang berdekatan.
Sesudah Restorasi terlaksana, terdengar tuntutan bahwa semua daerah yang dihuni orang Jepang atau yang termasuk kepulauan Jepang harus diduduki oleh negeri ini. Menurut mereka, wilayah yang sebenarnya menjadi haknya adalah kepulauan Ryukyu, Kepulauan Bonin, Kepulauan Kuriles, Karafuto (Saghalien) dan Hokkaido, termasuk juga Korea.
*        Jepang berhadapan dengan Tiongkok
Pada waktu itu negeri-negeri Barat mempunyai minat untuk menguasai Korea. Akibatnya seorang anak yang berumur 12 tahun menaiki singgasana untuk menggantikan ayahnya. Setelah ia dewasa, ia memulai suatu pergulatan antara keluarga Min dan keluarganya permaisuri yang dikepalai oleh permaisurinya itu sendiri, dengan keluarga Yi, yang terdiri atas sanak keluarga raja yang dipimpinnya untuk merebut kekuasaan tertinggi.
Dalam pertempuran ini timbul soal politik terhadap luar negeri. Partai permaisuri merupakan partai kemajuan yang ingin membuka negeri itu bagi hubungannya dengan bangsa asing. Di pihak lain, partai radja bersikap anti asing. Ketika Kaisar Matsuhito menaiki tahta di Jepang, pemerintah Korea juga diberi tahu. Korea juga diundang menjadi vasalnya Jepang, tetapi undangannya ditolak. Ayahnya raja Korea, sangat mengkhawatirkan kalau saja tindakan yang dilakukan Jepang membahayakan bagi Korea. Untuk itu Korea meminta perlindungan Tiongkok yang memang diakui hak dipertuannya oleh Korea.
Di lain pihak kaum Military dari Jepang merasa tidak senang terhadap Korea. Mereka menginginkan diambil tindakan keras terhadap negeri ini. Tetapi bagian terbesar dari tatatnegarawan tidak menyetujui cara berlaku demikian. Pada hakekat mereka, pekerjaan pembangunan yang luas dan besar harus diberikan lebih dahulu. Pada tahun 1875 kapal perang Jepang melakukan peninjauan di perairan Korea. Kapal perang itu ditembaki oleh suatu benteng pesisir Korea. Maka terjadilah pertandingan meriam. Benteng Korea dimusnahkan. Dan akibatnya Jepang menuntut diadakan perjanjian.
Tanpa menghiraukan tuntutan Tiongkok akan kedaulatan Korea, Jepang menandatangani Persetujuan Kianghwa (27 Februari 1876). Dengan persetujuan ini Jepang mengakui kemerdekaan Korea dan menetapkan persamaan negeri itu dengan Jepang. Jepang kemudian mendapat juridikasi konsuler. Penukaran duta dan konsul akan dilakukan.
Baik Jepang maupun Tiongkok menginginkan suatu tindakan kekerasan, bahkan kalau perlu berperang soal Korea ini. Namun mereka mendapat kecocokan satu sama lain, dan pada tahun 1885 terwujudlah Persetujuan Tientsin yang ditandatangani oleh Ito Hirobumi dari Jepang dan raja muda Li Hung Chang dari Tiongkok. Dengan persetujuan ini mereka berdua sepakat untuk mengundurkan tentara mereka dari Korea dalam tempo 4 bulan. Korea tetap merdeka dan dianjurkan untuk memoderenkan tentaranya dengan bantuan orang asing, tetapi instruktur ini tidak boleh berbangsa Jepang.
*        Perjanjian dengan Negeri Asing diubah
Jepang merasa sangat terikat dengan adanya persetujuan-persetujuan yang dilakukan dengan negeri asing. Jepang merasa bahwa negeri-negeri asing telah merampas sebagian dari kedaulatan yuridis dan kedaulatan ekonomisnya. Untuk itu Jepang mengusahakan agar perjanjian-perjanjian itu diubah. Maka Jepang melakukan pembicaraan dengan Inggris untuk mengubah persetujuan dan usaha ini berhasil. Jepang dapat mengadakan persetujuan dengan negeri Inggris pada tanggal 16 Juli 1894. Persetujuan ini tidak memberi kedaulatan pabean kepada Jepang, tatapi menghapus eksteritorialitet dan pengadilan konsuler. Dan negeri kedua yang sepakat mengadakan persetujuan sepanjang garis umum dengan Jepang adalah Amerika Serikat. Persetujuan ini terwujud pada tahun 1894 juga.

F.      Akibat Restorasi Meiji
Restorasi Meiji yang terjadi di Jepang juga menimbulkan akibat, diantaranya :
1.      Meiji telah menumbangkan pemerintahan feodal
2.      Pasaran di seluruh Asia dapat dikuasai Jepang pad aakhir abad ke-19. Pada waktu itu Jepang mendapat saingan yang berat yaitu Eropa dan Amerika.
3.      Jepang menjadi negara pertama di Asia yang bebas buta huruf. Jepang juga menjadi pelopor bagi Asia dalam usaha memajukan pendidikan.
4.      Jepang memiliki angkatan perang yang kuat dan disiplin, taat dan berani.




BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Pada waktu terjadi pemulihan kekuasaan di Jepang, Kaisar Matsuhito baru berumur 14 tahun. Dalam masa tersebut dia mendapat pengaruh dari penasehat-penasehatnya yang  berasal dari Jepang barat. Kaisar Matsuhito  ini lebih dikenal dengan nama Meiji Tenno. Sejak 1868, pada masa pemerintahannya dimulailah pembangunan Jepang yang kemudian dikenal dengan Restorasi Meiji. Waktu itu pemerintah yang baru kemudian membentuk pemerintahan sementara. Tetapi kemudian pemerintahan itu diubah : yang semula terdiri dari 3 badan diubah hanya diadakan 1 badan saja yang terdiri dari 2 dewa.
Reformasi-reformasi Meiji yang berjalan bersifat revolusioner dalam arti bahwa reformasi-reformasi ini menghancurkan sistem feodal dam mempersiapkan jalan untuk sistem ekonomi dan politik baru. Akan tetapi pemerintah baru berusaha membantu para samurai menyesuaikan diri kepada masyarakat baru. Samurai tingkat atas dapat digunakan untuk menghidupi keluarga mereka secara layak.
Kebijaksanaan pemerintah membantu bekas-bekas samurai untuk menyesuaikan diri pada masyarakat baru agaknya membekas pada watak Restorasi Meiji. Restorasi Meiji juga tidak bisa dikatakan lengkap sebagai revolusi sosial karena banyak sisa-sisa feodal tetap terdapat dalam struktur sosial kurun waktu yang baru. Khususnya struktur sosial dari desa-desa, tempat bagian terbesar penduduk bermukim sengaja dipertahankan. Sebab utama Restorasi Meiji tidak lengkap sebagai revolusi adalah ia tidak merupakan revolusi oleh kelas yang dikuasai melainkan revolusi di kalangan samurai dan dalam cara tertentu merupakan perjuangan kekuasaan di kalangan kelas penguasa.



DAFTAR PUSTAKA

Mattulada. 1979. Pedang dan Sempoa (Analisis Kultural ”Perasaan Kepribadian” Orang Jepang). Dirjen Dikti : Depdikbud.
Kunio, Yoshiharo. 1983. Perkembangan Ekonomi Jepang. Jakarta : Gramedia.
Drs. Leo Agung S. M.Pd. 2003. Sejarah Asia Timur I. Salatiga : Widyasari Press.
Pyie, Kenneth B. 1988. Generasi BAru Zaman Meiji. Jakarta : Garmedia.
Reischaur, Edwin O. 1982. Manusia Jepang. Jakarta : Sinar Harapan
Suryanadiprojo, Sayidiman. 1982. Manusia dan Masyarakat Jepang dalam Perjuangan Hidup. Jakarta : UI Press dan Pustaka Bradjaguna.

Tuesday, 25 September 2012

FILSAFAT SEJARAH



1. SOAL-SOAL TEORI DALAM SEJARAH
Jelaslah bahwa cerita cerita-sejarah saja yang dibentangkan dan bukan ilmu sejarah. Ilmu sejarah menyelidiki arti-tujuan-sejarah, gerak sejarah, isi, bentuk, makna, tafsiran sejarah,dan sebagainya. Soal-soal itu dapat disebut sejarah-serba-teori oleh sebab itu ilmu itu menyelidiki dasar pengertian tentang sejarah.
Serba singkat dapat durumuskan bahwa sejarah-serba-teori meliputi bidang - bidang teori seperti :
  1. Teori tentang sumber-sumber
  2. Teori tentang cara-cara penelitian sumber-sumber.
  3. Teori tantang rekonstruksi fakta-fakta.
  4. Teori-teori tentang cara dan penafsiran rekonstruksi fakta.
  5. Teori tentang penyusunan pengertian-pengertian serba-sejarah sebagai sendi-sendi serta isi-mutlak ilmu sejarah.
  6. Teori tentang metode-metode ilmiah yang dipergunakan didalam ilmu-ilmu sejarah : penelitian, ilmu sejarah murni, penyusunan pengertian dan sebagainya.
  7. Pemikiran tentang sejarah sebagai obyek : arti, gerak, tujuan, makna sejarah.
  8. Penempatan manusia didalam sejarah dan penentuan sejarah sebagai sifat-asasi-manusia.
  9. Teori tentang penulisan sejarah atausejarah sebagai subyek.
  10. Teori tentang sejarah daripada pemikiran sejarah : perkembangan historiografi.
  11. Teori tentang kwalifikasi sejarah sebangai ilmu, sebagai filsafat dan sebagainya.
Untuk memudahkan penerjemahan saoal ini ditegaskan secara demikian:
  1. siapakah yang menentukan gerak sejarah?
  2. bagaimanakah sifat gerak sejarah itu?
  3. apakah peranan manusia dalam sejarah atau apakah arti sejarah bagi manusia?
Dengan kata-kata yang lebih menjelaskan:
1.      kekuatan-kekuatan apakah yang menyebabkan terjadinya sejarah?
2.      wujud yang tampak kepada kita sebagai sejarah itu bagaimanakah sifat-sifatnya?
3.      apakah tugas manusia dalam sejarah?

2. SIAPAKAH YANG MENENTUKAN SEJARAH ?
Cerita sejarah melukiskan segala sesuatau dengan bersahaja yaitu tidak menyebut hal-hal sebab-sebab mutlak atau sebab-sebab yang pasti. Hanya rangkaian peristiwa peristiwa yang saling dihubungkan dengan menujukkan sangkut pautnya.
Menurut Tan Malaka gerak sejarah berpangkal kepada “sebab yang nyata yang merusakan dan memperbaiki penghidupannya”.

3. PENGERTIAN-PENGERTIAN DASAR TENTANG GERAK SEJARAH
Untuk memudahkan masalalah pangkal gerak sejarah, masalah itu harus dipandangsebagai masalah yang khusus mengenai manusia. Bagaimana manusia memandang dari kepribadiannya? Sejarah adalah sejarah manusia : peran sejarah hanya manusia saja : penulis cerita sejarah manusia pula : peminat sejarahpun manusia juga. Maka manusialah hyang harus dipandang sebagai inti soal-soal iyu.
Oleh sebab itu dapatlah dipahamkan apabila masalah itu dipandang sebagai akibat daripada pendapat manusia tentang dirinya.yaitu.
  1. manusia bebas menentukan nasib sendiri, dengan istilah internasional otonom.
  2. Masnusia tidak bebas menentikan nasibnya: nasib manusia ditentukan oleh kekuatan oleh kekuatan diluar pribadinya; manusia disebut heteronomy.
Faham bahwa manusia itu otonom dalam istilah filsafah disebut indenterminism dan faham heteronom disebut determinism.
Dari dua buah faham itu fahan heteronom dan detertminism ada faham yang tertua.
Pada umumnya orang lebih condong memerima kekuatan diluar pribadinya daripada ia percaya bahwa segala sesuatu itu ditentukan oleh diri sendiri.persoalan berkisar pada petanyaan, siapakah yang menentukan nasipnya? Menurut keadaannya kepercayaan manusia tentang penentu nasidnya adalah:
  1. Alam sekitarnya dengan isinya.
  2. Kekuatan x (tak bikenal).
  3. Tuhan.
Barang tentu tak mungkinlah semua aliran kita bicarakan semuanya. Pentinglah untuk mendapat garis besar dari pada perkembangan heteronomy dan kemudian tentang pertumbuhan paham otonomi.

3a. GERAK SEJARAH MENURUT HUKUM FATUM
Alam pikiran Yunani adalah dasar daripada perkembangan alam fikiran barat. Salah satu sendi penting ialah anggapan tentang manusia dan alam. Pada dasarnya alam raja dengan alam- kecil yaitu manusia ; macro-cosmos. Cosmos menunjujkan bahwa alam itu teratur dan idalam itu hukum-alam berkuasa. Cosmos bukanchaos atau kekacauan !. Hukum apakah yang berlaku dalam macro dan microcosmos ?. alam raja dan alam manusia dikuasai oleh nasib (kadar) yaitu suatu kekuatan gaib yang menguasai macrocosmos-microcosmos. Perjalanan hidup alam semesta ditentukan oleh nasib :perjalanan matahari, bulan , bintang, manusia dsb, tak dapat menyimpang dari jalan yang sudah ditentukan oleh nasib. Hokum alam yang menjadi dasar bagi segala hukum cosmos ialah hokum lingkaran atau hokum cyclus (siklus). Setiap kejadian, setiap peristiwa akan terjadi lagi, terulang lagi.
Arti cakra menggilling ialah bahwa manusia tidak dapat melepaskan diri dari cakram itu dan bahwa segala kejadian peristwa berlangsung dengan pasti.. cakram adalah lambing dari pada nasib (kadar) yang berputar terus serba abadi tanpa henti putusnya. Manusia terpaku pikat pada cakram, hidup bergerak naik turun seirama dengan gerak irama cakram dijagat raya.serasi dengan gerak irama cakram dijagat kecil. Nasib (kadar) adalah kekuatan tunggal yang menentukan gerak sejarah : manusia hanya menjalani dan menjalankan kadarnya. Maka oleh sebab itu manusia Yunani hidup dengan bebas, tidak memikirkan sesuatu.
Zaman lampau telah terjadi menurut kodrat alam, terlaksana menurut kadar ; apa guna menyesalkan sesuatu ? sesal tak berfaedah, tak perlu meninjau belakang !
Zaman yang akan datang akan terjadi seperti telah dikodratkan : manusia tidak dapat mengubah kadar itu. Mak apa guna mengkhawatirkan zaman yang akan dating ? Apa perlunya membuang tenaga dengan mendukung rasa cemas dan khawatir ? Hiduplah dengan gembira, nikmatilah masa sekarang ; bergembiralah dengan pemberian kadar dan nasib ! Amor fati, cintailah nasibmu !
Kadar, nasib atau fatum bagi alam Yunani kekuatan tunggal yang tak dikenal dan tak perlu dikenal. Penggerak cosmos diterima pemberinnya dengan gembira : amor fati. Oleh sebab itu cerita sejarah dari masa itu melukiskan kejadian peristiwa dengan rasa gembira dan menjerah.
Sifat daripada cerita sejarah ialah realistis, menurut kejataan dengan menceritakan peristiwa-peristiwa itu sedemikian, seolah-olah harus terjadi demikian, harusterjadi begitu, harus dan lain tidak! Manusia menjera dengan demikian……..

3b. FAHAM SANTO AUGUSTINUS
Faham fatum Yunani kemudian menjelma dalam agama Nasrani senagai fahamketuhanan dengan sifat-sifat yang sama:
a.       Kekuatan tunggal fatum “menjadi” Tuhan.
b.      Serba keharusan, menurut rencana alam, menurut ketrentuan fatum menjadi kehendak tuhan. Kodrat alam menjadi kodrat ilahi
c.       Sejarah sebagaia wujud kadar menjadi sejarah sebagai wujud kehendak ilahi.
Kesimpulan daripada penjelmaan hulum cakra-manggilinga itu ialah bahwa nasip manusia tidak bebas menentukan nasib sendiri. Ia menerima nasib dari tuhan, apa juga harus diterima sebagai kehendak Tuhan tidak dapat ditawar lagi. Tuhan sudah menentukan perjalanan hidup dan alam: manusia tidak dapat mengubah garis hidup yang sudah ditenukan itu. Bagi alam fikiran Yunani manusia menerima segala sesuatu yang amor fati: bagi alam kodrat ilahi pemberian tuha n diterima dengan fiat colutas tua kehendak Tuhan terlaksana.
Santo Agustinus menghimpun suatu teori sejarah berdasarkan fiat volutes tua itu.gerak sejarah dunia diibaratkan riwayat hidup manusia.
Makna sejarah adalah masa pancaroba, masa ujian bagi manusia. Kehendak tuhan harus diterima dengan rela dan ikhlasmanusia tidak dapat melepaskan diridari kodrat ilahi. Keharusan kodrat ilahi menurut faham ini ditambah dengan ajaran ajaran diakhirat: masuk civitazs diaboli atau neraka.
Zaman lampau sebagai perwujudan kehendak tuhan  adalah cermin  atau hikmah untuk mengetahui kodrat ilahi. Zaman yang akan datang adalahmedan perjuangan untuk me4ndapat Civitas Dei. Maka kehidupan manusia ditujukan kepada Civitas Dei. Kepada akhirat : kecemasan dan ketakutan meliputi seluruh alam dan fikiran itu.
Demikian pandangan sejarah eropa dimasa abad pertengahan , manusia hanya menanti kedatangan Civitas Dei. Gerakan sejarah bermata air kodrat ilahi dan bermuara pada kodrat ilahi pula. Terdapatlah perbedaan besar antara amor fati dengan fiat vodultas tua dalam jaman Civilitas Diaboli, akan tetapi dasarnya sama.

3b. PENDAPAT IBN KHALDUN TENTANG SEJARAH
Ibn Khaldu (1332-1406 A.D.) adlah seseorang sarjana arab yang tersohor, ia yang dipandang sebagai ahli teori ilmu sejarah yang paling pertama. Teorinya didasarkan pada kehendak Tuahn sebagai pangkal gerak sejarah seperti Augustinus, akan tetapi Ibn Khaldu tidak memusatkan perhatiannya pada akhirat. Baginya sejarah adalah ilmu berdasarkan kenyataan, tujuan sejarah ialah agar manusia sadar akan perubahan-perubahan masyarakat sebagai usaha penyempurnaan kehidupannya. Agar menjadi jelas maka pelajarilah pendapat Ibn Khaldu (diterjemahkan dari An Arab Phylosophy of History translate and arranged by Charles Issawi M.A. hal 26.30).

Charles Darwin
Mak bertapa besarnya perbedaan yang terdapat antara teori Augustinus dengan Ibn Khaldu tampak dari tujuan terakhir. Augustinus mengakhiri sejarah dengan Dwi Tunggal Surga dan Neraka; bagi Ibn Khaldun sejrah mnenuju kearah timbulnya beraneka ragam warna masyarakat, Negara dengan manusianya. Bukan Negara dan lainya yang beraneka ragam warna betaraf rendah tetapi bertajam bentuk masyarakat dan kenegaraan dan manusia yang menuju kearah kesempurnaan hidup.
Toei Augustinus menciptakan manusia menjera; teori Ibn Khaldun mendidik manusia menjadi pejuang yang tak kenal mundur. Puncak gerak sejarah baginya adalah umat manusia bahagia dengan beraneka ragam masyarkat, negar dan kesatuan nhidup lainya yang sempurna : Bhineka Tunggal Ika.satu umat manusia dengan corak ragam yang serasi dan sempurna.

3d. REAISSANCE DAN AKIBATNYA
Sejarah adalah medan perjuangan manusia dan cerita sejarah adalah epos perjuangan mencapai kemajuan . dengan ilmu pengetahuan , teknik, filsafat alam sekitarnya diselidiki dengan sangat evolusi. Mitos evolusi menjadi sumber dinamika yang dasyat dan mengeluarkan manusia dari alam rohaniah.
Dari faham-faham yang terkenallah history-materialism atau economic determinism. Faham ini menerangkan bahwa pangkal gerak sejarah ialah ekonomi; gerak sejarah ditentukan oleh car-cara menghasilkan barang keperluan masyarakat.
Gerak sejarah terlaksana dengan pasti menuju kearah masyarakat yang tidak mengenal pertentanagn kelas. Tujuan sejarah ialah menciptakan kebahagiaan untuk setiap manusia; kelas manusia istimewa tentu akan lernyap dimasa masyarakat tanpa kelas diwujudkan . manusia pada dasarnya tidak bebas, tiadak otonom dalam arti luas. Semua perubahan terjadi tanpa persetujuan manusia; ia hanya mempercepat laju mempercepat gerak sejarah. Hanya mempercepat dan ia tidak dapat mengubah atau menahan gerak sejarah.
Gerak sejarah tidak memperlukan tuhan , tidak memperluakan fatum dan tidak memperlukan manusia agar dapat terlaksana. Sejarah berlangsung dengan sendirinya yaitu karena pertentangan kelas. Kelas salis bertentangan karena itu memang kadarnya. Maka gerak sejarah bersifat mekanis artinya seperti arloji yang setelah diputar berjalan sendiri.
Demikianlah menurut fshsm histirical materialism yang disusun oleh Karl Max 91818-1883) dan F. Engels (1820-1895).
Dunia tersedia untuk difikirkan akan tetapi dunia harus diubah menurut kehendak manusia berdasarkan hukum-hukum alam. Sejarah benar-benar menjadi perjuangan manusia uantuk menciptakan dunia baru guna kebahgiaan setiap manusia.

3e TAFSIRAN SEJARAH MENURUT OSWALD SPENGLER
O. Spengler 1880-1936) ramalannya itu didasarkan ditentukan oleh hukum alam yang disebut nasib. Dalil O. Spengler ialah bahwa kehidupan sebuah kebudayaan dalam segalanya sama pula dengan peri kehidupan manusia. Persamaan itu terdapat pula dengan alam semesta: macro cosmos dan micro cosmos, sama dalam susunan dan sama kehidupan nya. Adanpun persamaan ieu didasarkan kehidupan organis yang dikuasai oleh hukum siklus sebagai wujud daripada fatum. Hukum itu tampak pada silkus.
Suatu kebudayaan sudah mendekati keruntuhan apabila kultur sudah menjadi Zivilisation. Apabila kultur sudah kehilangan dijiwa maka saja pencipta dan gerak sejarah membeku.
Apa tujuan gerak sejarah? Gerak sejarah tidak bertujuan suatu kecuali melahirkan > membesarkan > mengmbangkan > meruntuhkan kebudayaan, itulah tujuannya.
Mempelajari sejarah tujuannya ialah untuk mengetahui tingkat suatu kebudayaan seperti seorang dokter menentukan sifat penyakit seorang yang sakit.sesudah diagnose ditentukan , nasib kebudayaan itu dapat diramaikan sehingga untuk  seterusnya pemilik kebudayaan itu dapat menentukan skap hidup.



3f. TAFSIRAN ARNOLD J. TOYBEE
Arnold J Toynbee (1889-    ) Teori Toynbee didasarkan atas penyelidikan 21 kebudayaan yang sempurna dan 9 kebudayaan yang kurang sempurna.kerajaan sempurna umpamanya yaitu Junani, Romawi, Maya dan yang tidak sempurna antara lain : Sparta, Eskimo, Polynesia, Turki.
Menurut Toynbee gerak sejarah berjalan melalui tingkatan  seperti berikut:
  1. genesis of civilizations – lahirnya kebudayaan.
  2. growth of civilizations – perkembangan kebudayaan.
  3. decline of civilizations – keruntuhan kebudayaan.
Apabila minoritas menjadi lemah dan kehilangan daya menciptakan , maka tantangan dari alam tak dapat menjawab lagi. Minority mennyerah, mundur, dan pertumbuhan yang tidak terdapat lagi. Apabila keadaan sudah memuncak seperti itu, mak keruntuhan mulai tampak. Keruntuhan itu terjadi dalam tiga masa yaitu:
  1. kekerosotan kebudayaan.
  2. Kehancuran kebudayaan.
  3. Lenyapnya kebudayaan.
Dengan demikian jelaslah bahwa garis besar daripada teori Toynbee garis besarnya mirip dengan tafsiran Santo Augustinus. Akhir dari gerakan sejrahpun sama juga; Citivitas Dei.

3g. TEORI PITRIM SOROKIN
Sorokin membentangkan teori yang berlainan sekali : ia tidak mengakui adanya cyclus seperti hukum fatum: ia tidak menerima pula teori evolusi seperti Kalm Marx Augustinus, Toynbee yang menuju kearah Kerajaan Allah baginya disetujuinya.
Ia mengatakan bahwa ahli sperti Spengier.Toynbee dan lainya membuta teori yang tidak tidak benar-benar menghargai kenyataan sejarah. Gerak sejarah dengan gaya, irama dan corak yang kaya raya yang dipermudah, dipersingkat dan disederhanakan sehingga menjadi teori siklus. Oleh sebab itu Sorokin menyatakan bahwa gerak sejarah terutama ditunjukan Fluctualiom hem age to age yaitu naik-turun, pasang- surut,timbul; tenggelamdengan ganti berganti.

PENDIDIKAN



1.      Apa yang  dimaksut pendidikan?
Pendidikan dalam arti sederhana artinya sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Pendidikan atau pedagogie berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan secara senjaga oleh orang dewasa agar  ia menjadi dewasa. Dewasa disini dimaksutkan adalah dapat bertanggung jawab terhadap diri sendiri secara fisik, psikologis, paedagogis dan sosiologis (Hasbullah, 2005 : 1).
John Dewey
Pendidikan adalah  proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelek dan emosional kearah alam dan sesama manusia.
Ki Hajar Dewantoro
Pendidikan adalah tuntutan dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksutnya, pendidikan  yaitu mmenuntun segala kekuatan kondrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai  keselamatan dan kebahagiaan  yang setinggi-tingginya (Hasbullah, 2005 : 4).
Pendidikan dapat diartikan  secara maha luas, sempit dan  luas terbatas. Dalam pengertian maha luas, pendidikan sama dengan hidup. Pendidikan adalah segala situasi dalam hidup yang mempengaruhi pertumbuhan seseorang. Pendidikan adalah pengalaman belajar. Oleh karena itu pendidikan sebagai  keseluruhan pengalaman belajar setiap orang sepanjang hidupnya. Hal ini berarti pendidikan berlangsung tidak dalam batas usia tertentu, tapi berlansung sepanjang hidup (life long). Sejak lahir hingga mati (Drs. Redja Mudyaharho, 2001: 46).
Dalam pengertian maha luas, tempat berlangsung pendidikan tidak terbatas dalam satu jenis lingkungan hidup tertentu dalam bentuk sekolah,  tetapi berlangsung dalam segala lingkungan hidup manusia. Pendidikan sebagai pengalaman belajar berlangsung baik dalam lingkungan budaya dalam masyarakat hasil rekayasa manusia, maupun lingkungan alam yang terjadi sendiri tanpa rekayasa manusia.
Dalam pengertian sempit, pendidikan adalah sekolah atau persekolahan. Sekolah adalah lembaga pendidikan formal sebagai salah satu  hasil rekayasa dari peradaban manusia, disamping keluarga, dunia kerja dan negara dan lembaga kenegaraan. 



2.      Sejak kapan manusia memerlukan pendidikan ?
Pendidikan manusia adalah sejak ia lahir di dunia. Ada juga  yang mengatakan sejak dalam kandungan seorang ibu, anak tersebut telah mendapat pendidikan. (Suparman, 1997 : 1). Dari uraian tersebut kita mengetahui bahwa pendidikan untuk anak memang dapat sejak dalam kandungan karena seorang ibu dapat memberikan rangsangan kepada janin yang sifatnya mendidik janin tersebut baik secara fisik atau kepribadian.



3.      Sejak kapan manusia memerlukan pendidikan?
John Jurolimek melihat  perkembangan manusia itu dengan membandingkan dengan makhluk lain. Untuk mengetahui perbedaan itu dengan cara mengkontrasikan bintang dengan kehidupan manusia. Sebuah contoh; seluruh kehidupan manusia  mempunyai  kekuatan pendorong untuk melakukan sesuatu  pekerjaaan demi terjaminnya kelangsungan hidup (Aswandi Bahar, 1989: 114).  Untuk itu ia  memerlukan tidak hanya kebutuhan f isik saja, namun  kehidupan  dimana dia harus belajar  menjadi apa dan siapa dia itu. Manusia  harus belajar untuk ingin tahu mengenai masyarakat  dan kebudayaan, sebab  dengan  hal ini akan menjmaun abadinya masyarakat  dari  generasi satu ke generasi berikutnya. Untuk mitu perluinya pendidikan supaya mampu mempertahankan kebudyaan masyarakat itu.
  Yang  paling berharga dalam  kehidupan adalah  potensinya untuk berkembang (Aswandi Bahar, 1989 : 116). Sedangkan binatang dan tumbuhan dapat beradaptasi pada lingkungan tertentu, namun manusia yang dapat  hidup dimana saja dan manusia dapat menyesuaikan dirinya dengan alam. Manusia dapat hidup dimana saja  ada kehidupan, di permukaan bumi  ini dan membuat suatu  kehidupan bermasyarakat. Hal ini  karena manusia mempunyai  kemampuan untuk  beradaptasi dengan lingkungan. Manusia berusaha memb uat  kebudayaan sedemikian rupa dan tidak mau tergantung pada alam.
Dalam psikologis ada  konsep “actualization”. Untuk mencapai potensi maksimum  ini tergantung pada berbagai faktor, termasuk variabel kepribadian seperti minat, motivasi, keinginan dan lain-lain. Dan dalam pengmbangan  potensi ini adalah adanya kesempatan untuk belajar (Aswandi Bahar, 1989: 117). Sebagai contoh; didalam dunia ini ada  lebih dari 3000 bahasa  dialek. Semua manusia dapat  mempunyai potensi untuk mengetahui dan mempratekannya. Tapi persoalannya adalah kesempatan untuk belajar  yang tersedia sangat terbatas.

4.      Siapa yang mempunyai kewenangan untuk mendidik? Mengapa demikian?
a.       Pendidikan dalam lingkugan keluarga
Dalam mendidik anak-anak di sekolah melanjutkan pendidikan anak-anak yang telah dilaksanakan oleh  orang tua di rumah. Berhasili baik dan tidaknya pendidikan di sekolah tergantung kepada dan dipengaruhi oleh pendidikan di dalam keluarga. Pendidikan keluarga adalah fundamen atau dasar dari pendidikan anak selanjutnya (Ngalim Purwanto, 1993 : 85).
Dalam mengemukakan pendidikan keluarga telah ada  ahli dari zaman dahulu telah yang membahasnya, antara  lain:
J.J. Rosseau (1712-1778) ia menganjurkan agar pendidikan anak disesuaikan dengan tiap-tiap perkembangannya sedari kecilnya (Ngalim Purwanto, 1993 : 86). Pestalozzi (1746-1827) ia menguratakan  tentang penidikan keluarga sebagai unsur pertama dalam kehidupan masyarakat dan juga menguraikan bagaimana cara  memberi pelajaran dan pada agama pada anak-anak.
Untuk yang perlu diperhatikan:
1.      Jangan sering kali melemahkan semangatnya dalam usaha hendak berdiri sendiri.
2.       Jangan memberi malu atau mengejek anak-anak di muka orang  lain.
3.      Jangan  terlalu membeda-bedakan dan berlau pilih kasih terhdap anak dalam keluarga.
4.      Jangan memanjakan anak, tapi juga tidak baik tidak mempedulikan sedikit pada anak-anak (Ngalim Purwanto, 1993 : 95).
b.      Guru
Cole S. Btembeck mengemukakan peranan sosial g uru di sekolah, sebagai berikut:
1.      Sebagai alat peraga
2.      Sebagai penguji
3.      Sebagai orang yang berdisplin.
4.      Sebagai orang kepercayaan.
5.      Kseabagai orang pengenal kebudayaan
6.      Sebagai  penganti orang tua.
7.      Sebagai orangg penasihat siswa
           (Aswandi Bahar, 1989 : 148).
c.       Masyarakat
John Jorolimek mengatakan bahjwa tujuan  utama  pendidikan adalah mengajar siswa agar dapat menyesuaikan diri dengan realita alam  sosial ( Aswandi Bahar, 1989 : 90).
Sosial realitas mengharapkan sekolah untuk tidak menutup mata dengan kenyataan  ini, tapi harus menjadi pusat  perhatiannya. Para siswa  harus dididik dan dipersiapkan  untuk menghadapi kenyataan  ini atau hidup dalam masyarakat yang beraneka ragam ini.  Karena kenyataan atau fakata berbeda dari satu daerah dengan daerah lain.  Dengan sendirinya kurikulumnya berbeda dari satu daerah dengan daerah lain, sehingga siswa mengetahui perbedaan keadaaan dan siap menghadapi kenyataan dengan arti dia dapat  menyesuaikan diri dengan memecahkan  permasalahannya.

Referensi :
Drs. J. Suparman. 1997. Sejarah Pendidikan. Surakarta :  Univesitas Sebelas Maret.

Drs Aswamndi Bahar 1989 .Dasar-Dasar Pendidikan . Jakarta: Depdikbud.
Drs. M. Ngalim M. Purwanto. 1993. Ilmu Pendidikan Teori dan praktis. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.